APK Indonesia Kecam Dugaan Kelalaian Pelayanan RSUD Syekh Yusuf, Siap Kawal Kasus Kematian Bayi hingga Tingkat Nasional
Koordinator Bidang Riset dan Pengkajian Data APK Indonesia, Zulfikar, menilai peristiwa tersebut merupakan tragedi kemanusiaan yang tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa. Menurutnya, apabila fakta-fakta yang disampaikan keluarga korban terbukti benar, maka terdapat indikasi kuat adanya kegagalan pelayanan kesehatan yang harus segera diusut dan dipertanggungjawabkan.
“Masa iya seorang bayi yang sudah dalam kondisi kritis harus menunggu berjam-jam tanpa kepastian penanganan dan rujukan. Ini bukan sekadar persoalan administrasi, melainkan menyangkut nyawa manusia. Kami mengecam keras dugaan pelayanan yang tidak bertanggung jawab di RSUD Syekh Yusuf,” tegas Zulfikar.
Ia menambahkan, dugaan lambannya respons tenaga medis, minimnya pemantauan terhadap pasien kritis, proses rujukan yang berlarut-larut, hingga buruknya pelayanan pasca meninggalnya pasien menunjukkan adanya persoalan serius dalam tata kelola pelayanan kesehatan yang wajib menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Gowa.
“Apabila rumah sakit tidak memiliki kemampuan menangani kondisi pasien tertentu, maka sistem rujukan harus berjalan cepat, profesional, dan berorientasi pada keselamatan pasien. Jangan sampai nyawa masyarakat menjadi korban akibat lambannya birokrasi dan buruknya koordinasi pelayanan kesehatan,” lanjutnya.
APK Indonesia mendesak Pemerintah Kabupaten Gowa, Dinas Kesehatan Kabupaten Gowa, Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, serta Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk segera melakukan investigasi dan audit menyeluruh terhadap pelayanan RSUD Syekh Yusuf.
“Audit rumah sakit ini secara menyeluruh. Evaluasi manajemen, standar pelayanan, sistem rujukan, serta tindak tegas siapa pun yang terbukti lalai. Jangan memaksakan pelayanan publik berjalan apabila keselamatan pasien tidak mampu dijamin dengan baik,” ujar Zulfikar.
Selain itu, APK Indonesia juga menyoroti berbagai keluhan masyarakat yang selama ini beredar terkait pelayanan RSUD Syekh Yusuf. Oleh karena itu, kasus meninggalnya Muhammad Attar dinilai tidak boleh dipandang sebagai kejadian yang berdiri sendiri.
“Kami menduga persoalan pelayanan di RSUD Syekh Yusuf bukan pertama kali terjadi. Sudah terlalu banyak keluhan yang muncul dari masyarakat. Pemerintah daerah tidak boleh lagi menutup mata terhadap persoalan ini. Jangan menunggu ada korban berikutnya baru bergerak,” katanya.
Atas peristiwa tersebut, APK Indonesia mendesak:
1. Pembentukan tim investigasi independen untuk mengusut dugaan kelalaian pelayanan terhadap korban.
2. Audit menyeluruh terhadap sistem pelayanan dan tata kelola RSUD Syekh Yusuf.
3. Transparansi seluruh dokumen pelayanan dan proses rujukan yang berkaitan dengan penanganan korban sesuai ketentuan yang berlaku.
4. Pemberian sanksi tegas kepada pihak-pihak yang terbukti melakukan kelalaian.
5. Evaluasi menyeluruh terhadap manajemen dan kualitas pelayanan RSUD Syekh Yusuf.
Lebih lanjut, APK Indonesia menegaskan bahwa apabila kasus ini tidak ditindaklanjuti secara serius oleh pemerintah dan pihak berwenang, maka organisasi tersebut akan membawa persoalan ini ke tingkat nasional.
“Kami mengingatkan Pemerintah Kabupaten Gowa agar tidak menganggap remeh kasus ini. Jika tidak ada langkah tegas, tidak ada audit yang transparan, dan tidak ada pertanggungjawaban yang jelas terhadap dugaan kelalaian ini, maka APK Indonesia akan membawa persoalan ini ke ranah konsolidasi nasional,” tegas Zulfikar.
Menurutnya, APK Indonesia siap membangun jaringan advokasi yang lebih luas dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat sipil, aktivis kesehatan, organisasi kepemudaan, serta gerakan mahasiswa di berbagai daerah guna mengawal kasus tersebut hingga tuntas.
“Kami akan membawa persoalan ini ke tingkat nasional dengan membangun konsolidasi bersama organisasi masyarakat sipil, aktivis kesehatan, serta berbagai elemen gerakan mahasiswa dan kepemudaan di seluruh Indonesia. Nyawa seorang bayi telah hilang. Tidak boleh ada pembiaran. Harus ada pertanggungjawaban dan pembenahan nyata agar tragedi serupa tidak kembali terjadi,” tutup Zulfikar.
