HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Sungai Tompobiring, Cermin Kebersihan Gowa: Belajar dari Masyarakat Kalase’rena Menjaga Sungai

TEROPONGGOWA.COM, GOWADi tengah maraknya isu pencemaran lingkungan, Sungai Tompongbiring di Kelurahan Kalase’rena, Kecamatan Bontonompo, tepatnya di Lingkungan Giring-Giring, hadir sebagai contoh nyata kepedulian warga terhadap alam. Tanpa program formal dari pemerintah setempat, masyarakat setempat mampu menjaga aliran sungai sepanjang kurang lebih 100 meter itu tetap jernih dan bersih.


Sejumlah kajian menyebutkan bahwa persoalan utama kebersihan sungai bukan semata masalah teknis, melainkan pola pikir masyarakat. Di beberapa daerah, sungai masih dianggap sebagai “tempat pembuangan raksasa” akibat minimnya akses Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Salah satunya diulas oleh Waste4Change yang menekankan bahwa sanksi sosial iseperti menghadirkan pelanggar dalam forum desa terbukti lebih efektif di sejumlah wilayah dibanding sekadar larangan tertulis.


Ketua RW 1 Kalase’rena, Nurdin, mengungkapkan bahwa meski belum ada program kebersihan khusus dari pemerintah, kondisi sungai tetap terjaga berkat kesadaran warga.


“Warga di sini selalu menjaga kebersihan sungai. Kalau ada yang lewat atau sedang ke sawah lalu melihat sampah di sungai, pasti langsung dibersihkan,” ujarnya, 29 November 2025.


Hal senada disampaikan Lamina, salah seorang warga Kalase’rena. Ia menegaskan, kebiasaan membuang sampah ke sungai tidak ditemukan di lingkungannya. Warga memilih mengelola sampah rumah tangga dengan cara dibakar di halaman masing-masing.


“Tidak ada yang buang sampah ke aliran sungai, apalagi langsung ke sungainya. Sampah dari rumah biasanya langsung dibakar, jadi tidak ada yang dibuang ke sungai,” jelasnya, 24 November 2025.


Kebersihan Sungai Tompongbiring pun membawa dampak positif. Setiap pekan, sungai tersebut ramai dikunjungi warga maupun mahasiswa untuk mandi atau sekadar rekreasi seperti bakar ikan.


“Sekarang makin banyak pengunjung atau mahasiswa yang datang untuk mandi-mandi atau bakar ikan. Kita juga tidak takut kalau anak-anak main air di sana karena airnya bersih,” tambah Lamina.


Namun, Nurdin mencatat tantangan baru justru datang dari pengunjung yang terkadang meninggalkan sampah setelah berwisata.


Menanggapi fenomena tersebut, ahli lingkungan Hafsan, Guru Besar sekaligus dosen Biologi Fakultas Sains dan Teknologi (FST) di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, mengingatkan bahwa pencemaran plastik di sungai telah masuk kategori darurat.


“Plastik yang sudah lama berada di perairan akan hancur menjadi partikel-partikel kecil yang disebut mikroplastik. Partikel ini sangat kecil dan bisa diserap atau dikonsumsi organisme seperti plankton, kerang, hingga udang,” jelasnya, 10 Desember 2025.


Ia mengapresiasi kesadaran warga Tompongbiring, namun tetap menekankan pentingnya dukungan kebijakan dari pemerintah setempat guna menjamin keberlanjutan kebersihan sungai.


Sungai Tompongbiring membuktikan bahwa harmoni antara manusia dan alam dapat terwujud melalui langkah sederhana dan kepedulian bersama. Tantangan ke depan adalah menjaga konsistensi agar aliran air tetap menjadi sumber kehidupan, bukan sumber penyakit, sekaligus menjadi inspirasi bagi sungai-sungai lain di Kabupaten Gowa hingga wilayah sekitarnya.

Editor: Ananda